Rabu, 20 Mei 2020

ANAK PANDAI


A
nak pandai. Kalimat ini selalu diidentikkan dengan rangking 1 atau nilai yang tinggi dalam ujian. Apakah benar anggapan tersebut? Saya yakin semua orang tua dan guru pasti setuju dengan pendapat tersebut.  Jika anggapan itu benar. Mengapa Thomas Alva Edison yang dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap nilainya selalu rendah ternyata mampu menjadi ilmuwan dan terkenal dengan penemuannya yaitu lampu pijar.
Selama ini kita salah dalam menyebut anak pandai. Anak yang kita sebut pandai hanyalah anak yang nilainya selalu bagus. Padahal kita tau, otak besar kita dibagi menjadi 2 yaitu otak kanan dan otak kiri. Jika anak lebih banyak berpikir menggunakan logika, ahli dalam matematika, fisika, pandai berbahasa, dll. Berarti otak kiri anak mungkin lebih dominan. Sedangkan jika sehari-hari anak terbiasa berpikir kreatif atau artistik, banyak berimajinasi, berinovasi, dll. Berarti otak kanan anak lebih dominan. 
Setiap anak tidak sama. Ada sebagian anak yang seimbang antara otak kanan dan otak kiri. Tetapi yang lebih banyak adalah dominan salah satu, yaitu otak kanan saja atau otak kiri saja. Anak yang nilainya selalu bagus, kita sebut dia anak pandai. Tetapi bukan berarti anak yang nilainya selalu rendah adalah anak yang bodoh. Biasanya anak seperti ini otak kanannya yang lebih dominan. Dia lebih suka berkreativitas.
Seperti anak pertama saya, sejak kecil dia aktif sekali. Siang malam tidak tidur-tidur. Kalau malam dia sering tidur jam 12 malam. Dia tidak pernah berjalan, tetapi berlari. Baru usia 5 tahun sudah bisa menjalankan komputer. Kelas 2 SD sudah mampu membuat rangkaian seri-paralel lampu led. Seiring bertambahnya usia dia semakin kreatif. Waktu SMP, dia menjadi operator sound sistem dan mampu memperbaikinya bila ada kerusakan, kemampuannya dibidang listrik dan komputer semakin meningkat. Semua kemampuan itu dia pelajari secara otodidak. Tetapi nilai pelajaran dia tidak pernah bagus.
Sekarang anak saya sudah SMA. Mondok di pesantren Darut Taqwa Suci Gresik. Karena SMK di pondok tidak ada jurusan multimedia atau elektro. Akhirnya memilih sekolah di aliyah. Saat pulang ke rumah, dia selalu mengotak atik sound. Kadang membuat sendiri sound kecil untuk dipakai di laptop. Pokoknya, sehari-hari yang dia lakukan terkait dengan laptop dan sound. Tetapi nilai pelajarannya tetap saja tidak mengalami peningkatan. 
Nah...apakah karena nilai pelajarannya jelek terus dia di bilang bodoh? setelah membaca cerita saya di atas, pasti semua orang setuju dengan pendapat saya bahwa dia bukan anak bodoh. Dia juga anak pandai.
Mulai sekarang, sebagai guru kita jangan dengan mudah mengatakan anak bodoh hanya karena nilainya jelek, karena sebenarnya dia punya keahlian yang tidak dimiliki orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar